<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ABDOEL MANDANGANU</title>
	<atom:link href="http://abdoelqt.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abdoelqt.wordpress.com</link>
	<description>Tanah adalah masalah vital, ketiadaan tanah merupakan masalah pokok.Tanpa tanah petani akan sengsara,kalau petani sengsara,maka negara akan kehilangan penyangga.Negara kehilangan soko guru revolusi.Maka.,yakinlah.,cepat atau lambat akan menuju pada keruntuhannya</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Jan 2009 08:34:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abdoelqt.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ABDOEL MANDANGANU</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abdoelqt.wordpress.com/osd.xml" title="ABDOEL MANDANGANU" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abdoelqt.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MBOK TUKIRAH&#8230;TANAH SAK EMPYAK&#8230;</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/mbok-tukirahtanah-sak-empyak/</link>
		<comments>http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/mbok-tukirahtanah-sak-empyak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 08:31:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdoelqt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/mbok-tukirahtanah-sak-empyak/</guid>
		<description><![CDATA[Mbok Tukirah tak pernah absen dari kumpulan PKK (Program Kesejahteraan Keluarga) di kampungnya. Dia hafal lagu wajib “Indonesia Raya”, meski mbok Tukirah tidak melek aksara, dia juga hafal 10 Program Pokok PKK, meski dia tak pernah tahu tulisan angka satu sampai sepuluh. Itu karena terlalu seringnya mendengar dan mengucapkan pada kali tiap perkumpulan sejenis. Mbok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=14&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mbok Tukirah tak pernah absen dari kumpulan PKK (Program Kesejahteraan Keluarga) di kampungnya. Dia hafal lagu wajib “Indonesia Raya”, meski mbok Tukirah tidak melek aksara, dia juga hafal 10 Program Pokok PKK, meski dia tak pernah tahu tulisan angka satu sampai sepuluh. Itu karena terlalu seringnya mendengar dan mengucapkan pada kali tiap perkumpulan sejenis. Mbok Tukirah tidak ambil peduli apalagi kehendak ingin memahami apa yang dia nyanyikan dan apa maksudnya, mengapa orang-orang itu juga fasih menyanyikan dan mengikrarkannya. Sedikit ingin tahu tapi dipendamnya, toh juga untuk apa, pikirnya. Yang penting menurutnya adalah melakukan hal yang sama dengan ibu-ibu lainnya dan tidak dianggapnya mbok Tukirah sebagai pupuk bawang, lain tidak. Entahlah…, mbuh ra weruh…, apa makna semua ini apalagi apa kaitannya dengan persoalan yang dia hadapi, semakn tidak tersambungkan. Toh, ketika kumpulan usai masing-masing orang harus berhadapan pada persoalannya sendiri-sendiri dan tidak dibahas di forum kumpulan tersebut apa lagi mencarikan pemecahannya. Sesuatu yang tidak akan terjadi meski dalam pikiran kecil dia juga berharap-harap.<span id="more-14"></span></p>
<p>Ketulusan mbok Tukirah mungkin sangat dangkal, sebatas rikuh sama tetangganya atau takut sama bu Kepala Desa yang tentu sebagai pimpinan organisasi terus memantau dan kadang mengintimidasi, kepada siapapun yang enggan dengan PKK yang dipimpinnya. Selain itu tidak menjadi soal bagi mbok Tukirah. Arisanpun kadang juga bolong, alias tidak pasok iuran yang telah ditentukan. Dengan clingusan pada roman mukanya menutupi rasa malu dan kikuk.</p>
<p>Betul, sepulang kumpulan itu mbok Tukirah harus menghadapi persoalan dasar yang dirasakannya selama ini, bahkan hampir sepertiga dari umurnya. Mendekati kepala enam umurnya. Bagi perempuan sebatang kara seperti dia sangatlah penuh resiko. Anak putrinya yang kisaran remaja juga sudah sudah sejak kecil ditinggal bapaknya, pulang ke rahmatullah. Mbok Tukirah remaja memang sudah yatim sejak kecil. Dia anak satu-satunya. Mbok Tukirah sangat bangga karena punya generasi yang harapan tidak akan senasib dengannya. Itu sudah pasti, soal kenyataan bicara lain itu juga soal lain, soal system sosial yang terus meliputi kehidupannya tanpa pandang bulu.</p>
<p>Tanah yang hanya sak empyak seluas rumahnya itu merupakan kekayaan satu-satunya yang sampai kinipun juga belum jelas kepemilikannya. Tanah itu pemberian bu Darsi sang tuan tanah, ketika mbok Tukirah masih muda. Mbok Tukirah muda ngenger pada bu Darsi yang kemudian dihadiahi sebidang tanah seluas 6 X 12 meter. Maka dibangunnyalah bidang tanah itu sebuah rumah yang sangat sangat sederhana. Generasi bu Darsi bisa jadi berbeda pikiran, anak-anak bu Darsi memang tidak sebaik bu Darsi. Mbok Tukirah sendiri tidak mungkin menjelaskan kebaikan bu Darsi kepadanya dan juga sebaliknya, pelayanannya kepada tuannya yang tak terhingga dalam kepasrahan posisi sosial. Biarlah…, biarlah saya saja yang tahu dan arwah bu Darsi, pikir mbok Tukirah. Anak-anaknya sangat sulit untuk memahaminya.</p>
<p>Yang terjadi, sebidang tanah itu telah dihibahkan oleh almarhumah bu Darsi. Mbok Tukirah bersyukur mempunyai sebidang tanah tersebut dan bisa memanfaatkannya sampai sekarang. Tapi sebetulnya, dalam harapan mbok Tukirah bias lebih dari itu. Bisa dimilikinya dan bu Kepala Desa mengetahuinya sebagai hibah. Itu kehendak mbok Tukirah. Kenyataannya, orang-orang generasi anak-anak almarhum bu Darsih tidaklah demikian. Bu Kepala Desa yang seumuran dengan anak pertama alm. Bu Darsih menganggapnya tidak demikian. Bahwa sebidang tanah itu milik anak pertama bu Darsih yang dipinjam-pakaikannya kepada mbok Tukirah.</p>
<p>Terbetik kekhawatiran dalam benak mbok Tukirah akan bergantinya generasi dan bergantinya status kepemilikan lahan yang hanya secuil itu. Pergantian generasi yang berbeda kepentingan dan berubahnya keinginan untuk mendaku.</p>
<p>Harapan terakhir adalah ada generasinya alm. bu Darsi yang baik hati dan mau mengerti proses sejarah panjangnya atas pengabdiannya kepada tuannya, bu Darsi.</p>
<p>Mbok Tukirah tidak paham meski hapal, …. Sandang ….. Pangan …. Papan…. seperti yang sering diucapkannya ketika mengikrarkan 10 Program Pokok PKK.</p>
<p>Siapa yang akan menyangkal bahwa sandang, pangan, papan…, menjadi masalah dasar warga bangsa seperti mbok Tukirah dan mbok Tukirah-mbok Tukirah yang lain dan yang sudah pasti banyak sekali. Dan Yakinlah…, (faktanya memang begitu) Negara sampai saat ini belum berbuat banyak. Belum berbuat untuk memberi harapan hidup layak bagi warganya, seperti mbok Tukirah.</p>
<p>Meski begitu mbok Tukirah tetap rajin hadir di kumpulan PKK di kampungnya.</p>
<p>abdoel mandanganu&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdoelqt.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdoelqt.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=14&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/mbok-tukirahtanah-sak-empyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b04bd0d7fe0ea442be7579ed145d305?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abdoelqt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKU TAK AKAN MENINGGALKAN MU</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/aku-tak-akan-meninggalkan-mu/</link>
		<comments>http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/aku-tak-akan-meninggalkan-mu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Jan 2009 07:27:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdoelqt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/aku-tak-akan-meninggalkan-mu/</guid>
		<description><![CDATA[Tepuklah dadaku, jangan terlalu lembut tapi juga jangan terlalu kuat. Bukalah selebar mungkin telapak tanganmu, biar lebih luas dan lebar mengenai dadaku yang sempit. Tariklah kerahku, kalau perlu angkatlah daguku dengan jemari lemasmu dan pandangilah terus mataku, terus…, dan jangan berkedip. Salurkan semua energi dalam-mu lewat sorot matamu. Mungkin ini bentuk komunikasi yang paling indah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=12&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tepuklah dadaku, jangan terlalu lembut tapi juga jangan terlalu kuat. Bukalah selebar mungkin telapak tanganmu, biar lebih luas dan lebar mengenai dadaku yang sempit. Tariklah kerahku, kalau perlu angkatlah daguku dengan jemari lemasmu dan pandangilah terus mataku, terus…, dan jangan berkedip. Salurkan semua energi dalam-mu lewat sorot matamu. Mungkin ini bentuk komunikasi yang paling indah yang kualami selama ini.<span id="more-12"></span><br />
Kudengar dengus nafasmu dan kurasakan jantungmu yang berdenyut tak aturan. Itu jelas kurasakan. Bicaralah perlahan-lahan dengan hatiku. Kau akan merasakannya. Merasakan kejujuranku dan sebaliknya kau akan memancarkan keluguan yang tak akan berbohong karena situasi sosial politik yang membaluti kita. Betapa aku akan terus dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku sudah kadung dididik oleh jaman untuk bersikap jujur dan apa adanya. Ngugemi janji dan menghormati teman. Tidak seperti yang kau duga belakangan ini, pergi secara tak bertanggung jawab. Ada pertemuan tapi juga ada jeda untuk berpisah. Berpisah tidak identik dengan berhenti. Meski berpisah tapi masih tetap berjalan pertemanan yang sejati. Teman senasib, seperjuangan juga sepenanggungan.<br />
Merah kulit pipimu menyiratkan keharuan, tapi tulang pipimu menampakkan kegigihan menghadapi persoalan. Kernyit dahimu bersama dengan sorot matamu juga begitu, tampak dalam dua wajah yang berbeda, samar-samar terlihat muak dan sedih. Mudah-madahan jatuh pada dugaan feeling-ku yang ke dua. Kernyitmu kadang mengeluarkan kecerdasan tersendiri. Dua aksi bisa kau lakukan sekaligus dalam satu waktu, ketika sebelumnya kernyit dahimu menguat. Meski kau masih menampakkan wajah lugu yang berhimpit dengan dungu. Kau memang teman dalam suka dan duka, dalam sedih, rindu tapi juga dalam kejuangan yang tak akan redup.<br />
Cuaca memang tidak begitu nyaman untuk berkomunikasi mendalam, ngudo roso atau bicara dari hati ke hati, apalagi detik-detik terakhir hubungan petemanan seseorang. Pasti akan sangat berkesan, negatif atau sebaliknya. Angin sangat dingin menyengat tulang dan berair membasahi kulit, uap nafas di mulut bagai asap rokok, di daerah pegunungan memang begitu tapi kali ini lain rasanya. Rasanya ada yang mengganjal tapi tidak jelas. Apa? Mungkin kegalauan perasaan saja, tapi tak bisa kupungkiri bahwa itu mempunyai makna lain.</p>
<p>Begitu permintaanku kepada kang Warso, seorang petani muda yang kurasa paling dekat diantara yang lain, dinamis, enerjik dan maju (progresif). Seakan itu merupakan perpisahanku dengan dia. Perpisahan fisik, psikis dan bahkan politik(s). Tidak. Sekali-kali tidak. Kuteguhkan kepadanya sekali lagi untuk memperlihatkan sikapku kepadanya. Dan nyatanya kupandangi dia, matanya tertunduk serasa akan menyatakan aku percaya padamu, kawan.</p>
<p>Aku tidak membenci waktu yang telah melahirkan perpisahan, tapi aku menghormati proses yang terus berjalan sambil terus menikmati pasang surutnya kobaran semangat kang Warso dan kawan-kawannya dalam gelombang irama kedzaliman kapitalisme.</p>
<p>Dalam keadaan berhimpit genting memang tidak menegakan untuk ditinggal, sementara kang Warso dan kawan-kawannya pasti menghadapi situasi psikilogis politis di titik terendah. Meski aku tidak sendiri, kang Warso lebih tidak sendirian. Besok harus berhadapan dengan kenyataan atas keras dan congkaknya aparat atas aksi selama ini, menggasak lahan mangkrak di sekitaran Perkebunan swasta…, yang justru di saat-saat genting aku tidak bisa bersama mereka….</p>
<p>abdoel_mandanganu&#8230;.medio januari 09</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdoelqt.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdoelqt.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=12&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/aku-tak-akan-meninggalkan-mu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b04bd0d7fe0ea442be7579ed145d305?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abdoelqt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEBUAH TITIK</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/12/12/sebuah-titik/</link>
		<comments>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/12/12/sebuah-titik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 05:36:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdoelqt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdoelqt.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Mbah Karso yakin titik itu miliknya. Yakin, tanpa ragu sedikitpun, yakin seyakin-yakinnya. Dia tidak memiliki bukti hukum yang lengkap, seperti pengacara atau fihak manapun yang menge-klaim sesuatu miliknya dengan segudang bukti yang cukup dan bisa dipertanggung jawabkan. Bukti itu adalah dirinya sendiri, cukup dirinya sendiri. Bersumber dari nenek moyangnya yang riwayat dan sejarahnya sahih dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=8&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Mbah Karso yakin titik itu miliknya. Yakin, tanpa ragu sedikitpun, yakin seyakin-yakinnya. Dia tidak memiliki bukti hukum yang lengkap, seperti pengacara atau fihak manapun yang menge-klaim sesuatu miliknya dengan segudang bukti yang cukup dan bisa dipertanggung jawabkan. Bukti itu adalah dirinya sendiri, cukup dirinya sendiri. Bersumber dari nenek moyangnya yang riwayat dan sejarahnya sahih dan tak terbantahkan oleh siapapun dan fihak manapun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;"><span id="more-8"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Bapak dan kakek mbah Karso juga tidak membekali bukti yang cukup serta argumentasi penguat yang memadai karena semua itu dipandang sesuatu yang sudah cukup disaksikan oleh kerturunannya, dan tidak dengan pertimbangan kelak kemudian hari akan ada aneksasi dari fhak luar, dengan cara kasar atau halus. Bekal tersebut untuk selanjutnya agar <em>diugemi</em>, dipegang kuat-kuat, meski situasi sosial politik mengganggunya atau akan mengganggunya diluar kemauan mbah Karso, sang penerus. Pasti akan dihentikan oleh mbah Karso karena dia mempunyai keyakinan menjaga tradisi itu. <strong><em>Sa dumuk bathuk sa nyari bumi</em></strong> yang akan dipertahankan sampai tetes darah yang penghabisan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Tradisi pada mbah Karso sangat taat pada kelanggengan dan keseimbangan alam. Garis keluarganya meski tidak setinggi keluarga raja atau priyayi namun polanya mirip. Kelanggengan sebuah trah keturunan dan terus berkiprah, ada dan mengada, bekerja mengolah hidup dan kehidupan serta terus belajar dan bersinergi dengan alam menuju keseimbangan dan keserasian. Bagi mbah Karso, nenek moyangnya terus ke atas dan keturunannya terus ke bawah adalah sebuah amanat yang harus terus dijaga dan dipertahankan. Maka sebetulnya tidaklah mungkin sebuah garis keluarga menghilangkan tradisi tersebut, juga sangat tidak mungkin memberikan sesuatu yang maya atau semacam penipuan semu bagi keturunannya apalagi dengan sesuatu yang akan merugikan bagi keturunannya sendiri. Hal itu sangat terjaga, karena menyangkut soal keyakinan, soal amanah atau titipan Gusti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Soal ‘titik’ itu, bagi mbah Karso adalah soal prinsipil, soal pusaka, soal warisan yang harus dijaga sampai mati. Titik itu sebesar kuda nil yang sedang tidur <strong><em>ngorok</em></strong> atau tiga ekor kerbau yang sedang <strong><em>njerum</em></strong> dan <strong><em>nggayemi </em></strong>menikmati bekal yang sudah tersimpan di waduk lambungnya sebagai kegiatan hewan berkategori mamah biak. Tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil untuk sebuah tanda yang permanen, tidak lapuk karena masa dan bahkan karena pergeseran gempa tektonik sekalipun. Batu itu bercokol begitu kuat dan tidak bergeser sedikitpun dari dulu. Atau menjadi bukti alam yang akan sulit di-alibi-kan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Radius kisaran dua puluh lima <em>depo</em> batu itu berada. Itu berarti milik mbah Karso. Mbah karso yakin akan hal itu seyakin-yakinnya. Tanah yang kurang dari 1000 m2 dengan demikian mutlak milik mbah Karso. Dengan nasib hukum yang tidak pasti mulai dari jaman penjajahan Belanda dan Jepang meski masih bisa menggarapnya dengan fluktuasi yang sporadis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">‘Politik Etis’-nya kolonialis Belanda dan ‘Romusa’-nya sang ‘penajarah’ dari Timur menambah daftar panjang derita keluarga mbah Karso. Bagaimana tidak, memiliki tapi tidak kuasa. Ya, kuasa ada di tangan Belanda dan Jepang sebagai fihak yang menjajah dan menguasai hak rakyat atas kedaulatannya di tanah sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Di era 60-an, mbah Karso agak bernafas lega dengan kepemilikan dan kuasa atas tanahnya meski tidak bertahan lama. Situasi politik begitu cepat berubah. Dengan dalih penyeragaman tanah itu harus ditanami dengan tanaman yang sejenis dengan yang dimaui oleh fihak Perhutani hingga akhirnya nyaris sama dengan lahan yang dikelola oleh Perhutani. Penolakan mbah Karso dan konco-konco tani lain nyaris tidak ada artinya, begitu lembek dan tidak bergema. Orang<span> </span>bilang seperti <strong><em>orong-orong ke pidak. </em></strong>Tidak bersuara dan sepi <strong><em>nyenyet</em></strong>. Tidak ada penolakan atau perlawanan berarti.<strong><em> </em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:Georgia;">Klaim akan semakin mudah bagi Perhutani untuk mengukuhkan bahwa lahan itu menjadi kawasan milik Perhutani dengan ukuran kesamaan jenis tanaman. Mbah Karso hanya berkeyakinan bahwa batu dan radius kisaran dua puluh lima <strong><em>depo</em></strong> itu miliknya sampai kapanpun.</span></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;">Malang</span><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;"> tak perlu direnungi, nasib tak perlu disedihkan. Begitu kira-kira tesis mbah Karso. Faktanya tidak banyak berbeda. Penjajah dan Negara sendiri tidak banyak berbeda. Mencaplok tanah rakyat sesukanya.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdoelqt.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdoelqt.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=8&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/12/12/sebuah-titik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b04bd0d7fe0ea442be7579ed145d305?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abdoelqt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pusaka</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/07/01/pusaka/</link>
		<comments>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/07/01/pusaka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jul 2008 05:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdoelqt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdoelqt.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Tanah adalah ibarat pusaka. Peninggalan nenek moyang yang harus dijaga bahkan dipertahankan sampai titik darah yang terakhir. Begitu penting dan berharganya tanah maka ‘ketaatan’ untuk menjaga dan mempertahankannya berada di titik kejiwaan yang paling klimaks dan batas toleransi rasional yang paling rigid. Tidak bisa tidak bahwa tanah dalam perjalanan waktu dan sejarah perdaban manusia, dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=7&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tanah adalah ibarat pusaka. Peninggalan nenek moyang yang harus dijaga bahkan dipertahankan sampai titik darah yang terakhir. Begitu penting dan berharganya tanah maka ‘ketaatan’ untuk menjaga dan mempertahankannya berada di titik kejiwaan yang paling klimaks dan batas toleransi rasional yang paling rigid. Tidak bisa tidak bahwa tanah dalam perjalanan waktu dan sejarah perdaban manusia, dalam skala kecil atau luas, menduduki posisi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, penting, begitu penting.  <span id="more-7"></span></p>
<p>Dalam tradisi masyarakat Jawa, warisan yang sebagaian besar yang dimaksdu adalah tanah, juga bermakna demikian, seperti gambaran di atas, menduduki tingkatan penting bahkan level terpenting. Statement “sa dumuk bathuk sa nyari bumi” bukan hanya slogan yang profan akan tetapi merupakan sebuah ekspresi heroisme natural, komunalitas yang paling asli, aspek peradaban yang luhur dan mengandung aspek teologis yang penting, mikro dan makrokosmos.</p>
<p>Pusaka adalah cekelan atau piyandel. Artinya orang yang tidak punya pusaka berarti tidak punya cekelan atau piyandel. Dalam kehidupan dibutuhkan piyandel agar orang bisa berjalan dengan kepercayaan diri yang maksimal, menghadapi tantangan penuh dengan keberanian dan kesemangatan dan mempunyai kedaulatan atau kekuasaan yang kokoh. Sebaliknya orang yang tidak mempunyai spirit di atas dalam perjuangan hidupnya pasti akan kalah dikuasai oleh fihak lain, dihina, dicaci maki bahkan dijajah atau ditindas untuk tunduk dan patuh pada kemauan fihak luar.<br />
Bangsa Indian dan Aborigin adalah contoh yang paling nyata atau bangsa Israil atau bangsa Palestina (atau bagsa manapun) yang sampai sekarang masih dalam konflik ‘tanah’ yang tidak berkesudahan.  <br />
Di Indonesia, negri kita tercinta ini, sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi bangsa-bangsa lembek (kedaulatannya menipis) tersebut di atas. Atas nama kekuasaan fihak luar yang namanya negri capital itu negri kita akan diambil pusakanya, akan dijarah dan dihisap sumber daya alam cepat atau lambat. ‘Tanah’ kita sudah kita serahkan kepada fihak asing atau fihak luar yang lebih kuasa atau lebih kuat dengan ‘sukarela’, dengan cara yang menurut kita sendiri merupakan langkah yang sangat cubluk, hina dan bodoh.<br />
Tanah-tanah Negara sudah kita gadaikan kepada para investor pada waktu yang sangat fantastis, hampir se-abad. Hasil-hasil bumi (tambang dan hutan) sudah dikeruk dan disikat habis. Free port adalah salah satu contoh yang paling nyata. Pembalakan hutan oleh dan untuk siapa, terus berjalan. Dan masih banyak lagi yang lainnya.<br />
Sementara, tentu yang terjadi bahwa rakyat miskin yang tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa akan tambah sengsara dengan tahapan yang pasti, menuju kesengsaraan.<br />
Rakyat sengsara karena tidak punya tanah, tidak punya lahan untuk berproduksi sementara Negara tidak bisa berbuat apa-apa. Negara tidak bisa melakukan kewajibannya yang paling dasar untuk rakyatnya, yakni memberi sebidang tanah untuk bercocok tanam, untuk berproduksi sesuai dengan profesinya, sebagai Petani, Petani gurem.<br />
Kita kehilangan pusaka, sehingga kita menjadi bangsa yang tidak punya piyandel yang pada akhirnya menjadikan kita bangsa yang hina dan lembek dan akan dijajah orang-orang rakus. <br />
Na’udzubillahi min dzaalik.</p>
<p> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abdoelqt.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abdoelqt.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdoelqt.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdoelqt.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=7&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/07/01/pusaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b04bd0d7fe0ea442be7579ed145d305?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abdoelqt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerpen : Sang Saka Di Halaman Rumah</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-sang-saka-di-halaman-rumah/</link>
		<comments>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-sang-saka-di-halaman-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 08:46:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdoelqt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdoelqt.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Seturun dari perahu, kami bersembilan disambut oleh pria tua yang masih terlihat segar dan tegar. Mungkin sekitar 65-an atau lebih. Dan perahu carteran itupun pergi meninggalkan kami. Kami tidak janji apalagi suruh menjemput.   “Bejo jenengan, mas”, (untung kamu, mas) ungkap Mbah sastro. Diucapkannya sampai tiga kali dengan penuh ekspresi serius tapi iba, sambil memandangi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=6&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Seturun dari perahu, kami bersembilan disambut oleh pria tua yang masih terlihat segar dan tegar. Mungkin sekitar 65-an atau lebih. Dan perahu carteran itupun pergi meninggalkan kami. Kami tidak janji apalagi suruh menjemput.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> <span id="more-6"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Bejo jenengan, mas”, (untung kamu, mas) ungkap Mbah sastro. Diucapkannya sampai tiga kali dengan penuh ekspresi serius tapi iba, sambil memandangi kami satu persatu dengan sorot muka yang penuh makna, pengharapan akan sebuah keamanan rombongan kami. Meski begitu, kami tidak semua paham dengan sambutan mbah Sastro yang begitu berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Memang kenapa , mBah?”, balas Romana Lubis, (satu-satunya mahasiswa asal Batak, yang lain dari Jawa semua), salah satu ketidak fahaman yang begitu polos terucapkan juga dengan cepat. Kukira, pertanyaan itu mewakili sebagian besar dari kami. Tapi Joko Prasojo cukup faham. Agaknya dia sedikit mempunyai feeling intelejen. Sekilas dan sekernyit dahi, sedikit berkedip, sambl menepuk pundak Mbah Sastro, “Ya…, Mbah, syukurlah”, sambil terus memandangi Mbah Sastro yang jga belum terlepas dari rasa takutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Belum ada seperempat jam yang lalu ada Patroli lewat, menyisir tempat-tempat yang mereka kehendaki, yang menurut mereka rawan. ….Termasuk sini”, sambil melihat bekas perahu karet yang tadi berhenti agak lama untuk mengawasi kondisi rumah Mbah Sastro, “Di sana…, ya, di sana itu”,<span>  </span>acungnya dengan sepotong ranting kecil yang digemgamnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Mbah Sastro mungkin menjadi salah satu dari yang lain dari target operasi (TO), makanya patroli agak lama mengawasi “kampung” Mbah Sastro. Atau ada banyak Mbah sastro yang diincar oleh penguasa. Kedung Pring adalah bagian terpenting dari lokasi yang harus dipantau oleh aparat, kalau perlu setiap saat, per jam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Begitu gampangnya pemerintah, yang didukung dari data intelegen menetapkan si A atau si Polan dalam kategori membangkang dan dengan begitu akan sangat gampang di cap PKI sebuah partai terlarang di Jaman Soeharto.Mbah Sasto adalah salah satunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dari data sejarah, kabupaten Boyolali adalah termasuk basis merah. Data itulah yang dipakai intelejen sekarang yang digunakan ntuk meneror rakyat. Data itu seperti sebuah senjata keris yang sudah keluar dari warangka, yang artinya harus ada korban yang dijadikan tumbalnya. Orde Baru memang sadis. Samapi sekarang keampuhan senjata itu belum ada yang menandingi. Bagaimana tidak, satu kali aparat intelejen mengatakan “ya”, maka si Polan akan menjadi TO.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Padahal personil aparat itu juga belum tentu mengerti apa-apa, baisa-biasa saja, tidak lebih dan tidak kurang, seperti zombie-zombi yang terus bergentayangan mencari mangsa menuruti kemauan tuannya tanpa tahu dirinya sendiri. Ketika masih produktif akan dipakai oleh majikannya ketika sudah tidak produktif dibuang atau dibakar sebagai sebuah beneka yang tidak berguna. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kedung Ombo adalah sekian dari jumlah mega proyeknya Soeharto untuk semakin menggandeng, akrab oleh karenanya menjadi antek-anteknya kapitalisme. Banyak para pemodal manca yang kemudian dipersilahkan oleh Soeharto dengan tangan jempolnya, “Monggo”. Sebuah ajakan cara orang Jawa yang super halus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kedung Ombo juga yang kemudian berubah menjadi malapetaka bagi semua termasuk abgi Mbah Sastro dan warganya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Perjalanan sekitar dua ratus meter mengakibatkan kami sudah sampai di halaman gubug Mbah Sastro. Rumah itu kata Mbah Sastro berpindah selama tiga kali dalam tiga bulan, terakhir ini yang akan ke empat kali meski agak tidak mungkin karena Mbah Sastro sudah memperhitungkan air pasang tidak akan merendam rumahnya lagi. Ya, jarak air tertinggi dengan lokasi rumah Mbah Sastro sekitar dua ratus meter. Tak akan terkejar air lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Angin pantai Kodung Ombo tak berbeda dengan air waduk Gajah Mungkur atau waduk Wadas Lintang, panas menyengat kala siang hari dan dingin menyentuh saat petang. Oleh karenanya kami lebih memilih di luar rumah dari pada di dalam meski Mbok Sastro sudah mempersilahkan. Sayup-sayup panas dan sedang suhu angina terus menyentuh kulit kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">“Bagaimanan Nak ?”, sodor Mbah Sastro lagi, “Aku hampir putus harapan. Keadilan sudah tak ada lagi, hanya semu, kemakmuran hanya ada dalam lamunan”, sambil membenahi tiang bendera dari batang bambu yang miring diterjang angin, “Di negri sendiri kami hidup tidak pasti”.<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pingn rasanya mengabadikan posisi Mbah Sastro, sekedar foto atau sukur-sukur video tapi aku nggak punya. Ku abadikan dalam memoriku yang paling dalam, bahwa Mbah Sastro masih mempunyai (andarbeni) sebuah bendera, bendera kebanggaannya, maka dipasangnya di halaman rumahnya, meski dengan sebatang bambu, tanpa disisiki, kemudian diikat begitu saja pada sebuah pohon agar berdiri kuat. Sang Merah Putih. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abdoelqt.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abdoelqt.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdoelqt.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdoelqt.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=6&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-sang-saka-di-halaman-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b04bd0d7fe0ea442be7579ed145d305?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abdoelqt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerpen : Pondasi Rumah yang Tersisa</title>
		<link>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-pondasi-rumah-yang-tersisa/</link>
		<comments>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-pondasi-rumah-yang-tersisa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 08:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdoelqt</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdoelqt.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Derita pembangunan waduk Wadas Lintang, masih terasa sampai sekarang, sudah sekitar lima belasan tahun yang lalu. Atau bahkan lebih. Begitulah kira-kira yang dialami pak Sarmin. Pria tua yang masih segar bugar. bercucu dua. Anaknya yang bungsu sudah duduk di kelas dua sebuah Sekolah Menengah Pertama di kotanya, Banjarnegara. Kota kecil memang tapi asesoris dan penataannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=4&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Derita pembangunan waduk Wadas Lintang, masih terasa sampai sekarang, sudah sekitar lima belasan tahun yang lalu. Atau bahkan lebih. Begitulah kira-kira yang dialami pak Sarmin. Pria tua yang masih segar bugar. bercucu dua. Anaknya yang bungsu sudah duduk di kelas dua sebuah Sekolah Menengah Pertama di kotanya, Banjarnegara. Kota kecil memang tapi asesoris dan penataannya tidak kalah dengan kota lain, semacam Purwokerto atau yang lain. Asri dan masih banyak panorama alam yang begitu orisinil. Gilar-gilar, begitu kira-kira maksud dari warga Banjar.<span id="more-4"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Masih sekitar 30-an Kepala Keluarga yang masih utuh, gembleng dalam kesatuan derita yang tak terlupakan. Ya, mungkin mereka-mereka itulah yang bisa disebut konsisten selama puluhan tahun untuk menyatakan apa yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran tak tertandingi. Sebagai sebuah kebenaran, menurut mereka sangat berdosa besar jika dilanggar atau dilindas begitu saja. Karena mereka yakin hal itu adalah benar-benar satu-satunya. “Hak”. Hak sebagai warga sipil yang harus dilindungi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Itu juga yang mereka yakini merupakan pemberian dari Yang Maha Pengasih. Mereka dianugerahi sebidng tanah melalui nenek keturunannya, untuk berdiam diri sebagai sebuah keluarga kecil yang bersambung sinambung sampai sekarang, secul tanah untuk penghidupannya sebagai Petani, atau anugerah tiada tara sebagai bekal hidup di muka bumi oleh Sang Yang Maha Pemurah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Disadari betul oleh Pak Sarmin dan teman-temannya, sangat berat. Keyakinan itu sangatlah berat resikonya. Meski tidak harus terjadi. Derita resiko itu sampai kini masih menghantui untuk dirinya sendiri dan untuk anak cucunya kelak, sebagai sebuah pengingkaran kebenaran, sampai anak cucunya, ya, sampai anak cucunya. Pak sarmin tidak mau seperti itu. Yang dia dan teman-tamanya mau, adalah hidup dalam kedamaian, penuh rahmat ilahi seperti harapannya masyarakat Indonesia. Hal itu juga tertuang dalam kitab UUD 1945, yakn pak Sarmin tambah-tambah. Bagi pak Sarmin hal ini yang belum ketemu sampai sekarang. Belum ketemu di negrinya sendiri yang merupakan pijakan hidup bermasyarakat dan beragama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Saya tidak tahu betul, rasa-rasanya suatu saat pak Sarmin begitu sangat religius dalam kehidupannya ddalam artian kepasrahan dan kesabaran dalam mengahdapi kenyataan ini, tapi juga menjadi sangat heroic dan berapi atas nama khalifahtullah fil ardl. Atau itulah mungkin pemaknaan yang pas terhadap ajaran agama yang juga saya yakini. Semua hamper misterius, maka saya harus dengan gigih memaknakan, menggali dan mempraktekkan, karena aku yang lebih muda, pikirku saat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sesekali pak Sarmin juga bercerita tentang kegigihan mbah Karto Suwiryo. Saya hanya mencocok-cocokkan saja rujukan sejarah yang kupunya itu hanya sangat sedikit, maklum saya tidak atau belum begitu tertarik oleh perjuangan DI/TII. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kali ini pak Sarmin tidak se-heroik yang ku tahu selama aku live in, “Aku seperti mau menangis saja, Nak, kalau melihat ini” selorohnya lirih kepadaku. Aku belum paham maksudnya.<span>  </span>Di berdiri di atas sebuah batu, diatas yang mirip-mirip bekas bangunan yang sudah lama atau apa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Kenapa, Pak?”, tanyaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dia tidak mengucurkan air mata tapi sangat mengharukan, sesekali memandangiku sambil menahan derita yang belum juga sirna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">“Di sini dulu bekas rumahku. Batu yang kuinjak ini adalah bekas pondasi rumahku. Aku sangat sedih kalau melihat ini. <em>Aku soro nek delok pondasi iki mas. Aku mesti nangis”. </em>Sengaja kutulis dengan bahasa pak Sarmin. Benar, kuamati mata pak Sarmin mulai berkaca-kaca. Namun secepatnya juga dikerdip-kedipkan matanya sehingga bias membendung derasnya air mata yang ingin meleleh ke pipi. Dia juga ingin tunjukkan bahwa dia masih tegar, setegar seorang laki-laki dihadapan anak cucunya. Juga dihadapanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Pondasi itu sekarang menjadi area <em>green belt</em> di sekitaran Waduk Wadas Lintang atau waduk Jendral Soedirman. Area yang harus ditinggalkan oleh pak Sarmin dan keluarganya dan bahkan teman-temannya kalau tidak mau tenggelam dalam luapan air waduk yang tak kenal kompromi. Panas dan keras.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Bersama delapan proyek waduk yang lainnya yang dibiayai Bank Dunia, pak Sarminadalah bagian nyata yang terjadi situasi yang menjadikannya seperti itu. Pak sarmin dan puluhan teman lainnya, belum sepeserpun menerima uang ganti rugai dari permerintah Orde Baru yang bertanggung jawab atas pembangunan itu. Mungkin sudah lupa atau sengaja di-peti eskan. Pimpinan tertinggi rezim orde baru telah lengser, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas peristiwa itu, dan hamper setiap orang mentup mata atas peristiwa yang dialami pak Sarmin dan teman-temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Penulis : Abdoel Rohim Mandanganu &#8211; Sastrawan Komunitas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abdoelqt.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abdoelqt.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdoelqt.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdoelqt.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdoelqt.wordpress.com&amp;blog=4065802&amp;post=4&amp;subd=abdoelqt&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-pondasi-rumah-yang-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b04bd0d7fe0ea442be7579ed145d305?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">abdoelqt</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
