MBOK TUKIRAH…TANAH SAK EMPYAK…

Mbok Tukirah tak pernah absen dari kumpulan PKK (Program Kesejahteraan Keluarga) di kampungnya. Dia hafal lagu wajib “Indonesia Raya”, meski mbok Tukirah tidak melek aksara, dia juga hafal 10 Program Pokok PKK, meski dia tak pernah tahu tulisan angka satu sampai sepuluh. Itu karena terlalu seringnya mendengar dan mengucapkan pada kali tiap perkumpulan sejenis. Mbok Tukirah tidak ambil peduli apalagi kehendak ingin memahami apa yang dia nyanyikan dan apa maksudnya, mengapa orang-orang itu juga fasih menyanyikan dan mengikrarkannya. Sedikit ingin tahu tapi dipendamnya, toh juga untuk apa, pikirnya. Yang penting menurutnya adalah melakukan hal yang sama dengan ibu-ibu lainnya dan tidak dianggapnya mbok Tukirah sebagai pupuk bawang, lain tidak. Entahlah…, mbuh ra weruh…, apa makna semua ini apalagi apa kaitannya dengan persoalan yang dia hadapi, semakn tidak tersambungkan. Toh, ketika kumpulan usai masing-masing orang harus berhadapan pada persoalannya sendiri-sendiri dan tidak dibahas di forum kumpulan tersebut apa lagi mencarikan pemecahannya. Sesuatu yang tidak akan terjadi meski dalam pikiran kecil dia juga berharap-harap.

Ketulusan mbok Tukirah mungkin sangat dangkal, sebatas rikuh sama tetangganya atau takut sama bu Kepala Desa yang tentu sebagai pimpinan organisasi terus memantau dan kadang mengintimidasi, kepada siapapun yang enggan dengan PKK yang dipimpinnya. Selain itu tidak menjadi soal bagi mbok Tukirah. Arisanpun kadang juga bolong, alias tidak pasok iuran yang telah ditentukan. Dengan clingusan pada roman mukanya menutupi rasa malu dan kikuk.

Betul, sepulang kumpulan itu mbok Tukirah harus menghadapi persoalan dasar yang dirasakannya selama ini, bahkan hampir sepertiga dari umurnya. Mendekati kepala enam umurnya. Bagi perempuan sebatang kara seperti dia sangatlah penuh resiko. Anak putrinya yang kisaran remaja juga sudah sudah sejak kecil ditinggal bapaknya, pulang ke rahmatullah. Mbok Tukirah remaja memang sudah yatim sejak kecil. Dia anak satu-satunya. Mbok Tukirah sangat bangga karena punya generasi yang harapan tidak akan senasib dengannya. Itu sudah pasti, soal kenyataan bicara lain itu juga soal lain, soal system sosial yang terus meliputi kehidupannya tanpa pandang bulu.

Tanah yang hanya sak empyak seluas rumahnya itu merupakan kekayaan satu-satunya yang sampai kinipun juga belum jelas kepemilikannya. Tanah itu pemberian bu Darsi sang tuan tanah, ketika mbok Tukirah masih muda. Mbok Tukirah muda ngenger pada bu Darsi yang kemudian dihadiahi sebidang tanah seluas 6 X 12 meter. Maka dibangunnyalah bidang tanah itu sebuah rumah yang sangat sangat sederhana. Generasi bu Darsi bisa jadi berbeda pikiran, anak-anak bu Darsi memang tidak sebaik bu Darsi. Mbok Tukirah sendiri tidak mungkin menjelaskan kebaikan bu Darsi kepadanya dan juga sebaliknya, pelayanannya kepada tuannya yang tak terhingga dalam kepasrahan posisi sosial. Biarlah…, biarlah saya saja yang tahu dan arwah bu Darsi, pikir mbok Tukirah. Anak-anaknya sangat sulit untuk memahaminya.

Yang terjadi, sebidang tanah itu telah dihibahkan oleh almarhumah bu Darsi. Mbok Tukirah bersyukur mempunyai sebidang tanah tersebut dan bisa memanfaatkannya sampai sekarang. Tapi sebetulnya, dalam harapan mbok Tukirah bias lebih dari itu. Bisa dimilikinya dan bu Kepala Desa mengetahuinya sebagai hibah. Itu kehendak mbok Tukirah. Kenyataannya, orang-orang generasi anak-anak almarhum bu Darsih tidaklah demikian. Bu Kepala Desa yang seumuran dengan anak pertama alm. Bu Darsih menganggapnya tidak demikian. Bahwa sebidang tanah itu milik anak pertama bu Darsih yang dipinjam-pakaikannya kepada mbok Tukirah.

Terbetik kekhawatiran dalam benak mbok Tukirah akan bergantinya generasi dan bergantinya status kepemilikan lahan yang hanya secuil itu. Pergantian generasi yang berbeda kepentingan dan berubahnya keinginan untuk mendaku.

Harapan terakhir adalah ada generasinya alm. bu Darsi yang baik hati dan mau mengerti proses sejarah panjangnya atas pengabdiannya kepada tuannya, bu Darsi.

Mbok Tukirah tidak paham meski hapal, …. Sandang ….. Pangan …. Papan…. seperti yang sering diucapkannya ketika mengikrarkan 10 Program Pokok PKK.

Siapa yang akan menyangkal bahwa sandang, pangan, papan…, menjadi masalah dasar warga bangsa seperti mbok Tukirah dan mbok Tukirah-mbok Tukirah yang lain dan yang sudah pasti banyak sekali. Dan Yakinlah…, (faktanya memang begitu) Negara sampai saat ini belum berbuat banyak. Belum berbuat untuk memberi harapan hidup layak bagi warganya, seperti mbok Tukirah.

Meski begitu mbok Tukirah tetap rajin hadir di kumpulan PKK di kampungnya.

abdoel mandanganu…..

Diterbitkan di: on Januari 19, 2009 at 8:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://abdoelqt.wordpress.com/2009/01/19/mbok-tukirahtanah-sak-empyak/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.