Cerpen : Sang Saka Di Halaman Rumah

Seturun dari perahu, kami bersembilan disambut oleh pria tua yang masih terlihat segar dan tegar. Mungkin sekitar 65-an atau lebih. Dan perahu carteran itupun pergi meninggalkan kami. Kami tidak janji apalagi suruh menjemput.

 

“Bejo jenengan, mas”, (untung kamu, mas) ungkap Mbah sastro. Diucapkannya sampai tiga kali dengan penuh ekspresi serius tapi iba, sambil memandangi kami satu persatu dengan sorot muka yang penuh makna, pengharapan akan sebuah keamanan rombongan kami. Meski begitu, kami tidak semua paham dengan sambutan mbah Sastro yang begitu berbeda.

“Memang kenapa , mBah?”, balas Romana Lubis, (satu-satunya mahasiswa asal Batak, yang lain dari Jawa semua), salah satu ketidak fahaman yang begitu polos terucapkan juga dengan cepat. Kukira, pertanyaan itu mewakili sebagian besar dari kami. Tapi Joko Prasojo cukup faham. Agaknya dia sedikit mempunyai feeling intelejen. Sekilas dan sekernyit dahi, sedikit berkedip, sambl menepuk pundak Mbah Sastro, “Ya…, Mbah, syukurlah”, sambil terus memandangi Mbah Sastro yang jga belum terlepas dari rasa takutnya.

“Belum ada seperempat jam yang lalu ada Patroli lewat, menyisir tempat-tempat yang mereka kehendaki, yang menurut mereka rawan. ….Termasuk sini”, sambil melihat bekas perahu karet yang tadi berhenti agak lama untuk mengawasi kondisi rumah Mbah Sastro, “Di sana…, ya, di sana itu”,  acungnya dengan sepotong ranting kecil yang digemgamnya.

Mbah Sastro mungkin menjadi salah satu dari yang lain dari target operasi (TO), makanya patroli agak lama mengawasi “kampung” Mbah Sastro. Atau ada banyak Mbah sastro yang diincar oleh penguasa. Kedung Pring adalah bagian terpenting dari lokasi yang harus dipantau oleh aparat, kalau perlu setiap saat, per jam.

Begitu gampangnya pemerintah, yang didukung dari data intelegen menetapkan si A atau si Polan dalam kategori membangkang dan dengan begitu akan sangat gampang di cap PKI sebuah partai terlarang di Jaman Soeharto.Mbah Sasto adalah salah satunya.

Dari data sejarah, kabupaten Boyolali adalah termasuk basis merah. Data itulah yang dipakai intelejen sekarang yang digunakan ntuk meneror rakyat. Data itu seperti sebuah senjata keris yang sudah keluar dari warangka, yang artinya harus ada korban yang dijadikan tumbalnya. Orde Baru memang sadis. Samapi sekarang keampuhan senjata itu belum ada yang menandingi. Bagaimana tidak, satu kali aparat intelejen mengatakan “ya”, maka si Polan akan menjadi TO.

Padahal personil aparat itu juga belum tentu mengerti apa-apa, baisa-biasa saja, tidak lebih dan tidak kurang, seperti zombie-zombi yang terus bergentayangan mencari mangsa menuruti kemauan tuannya tanpa tahu dirinya sendiri. Ketika masih produktif akan dipakai oleh majikannya ketika sudah tidak produktif dibuang atau dibakar sebagai sebuah beneka yang tidak berguna.

Kedung Ombo adalah sekian dari jumlah mega proyeknya Soeharto untuk semakin menggandeng, akrab oleh karenanya menjadi antek-anteknya kapitalisme. Banyak para pemodal manca yang kemudian dipersilahkan oleh Soeharto dengan tangan jempolnya, “Monggo”. Sebuah ajakan cara orang Jawa yang super halus.

Kedung Ombo juga yang kemudian berubah menjadi malapetaka bagi semua termasuk abgi Mbah Sastro dan warganya.

 

Perjalanan sekitar dua ratus meter mengakibatkan kami sudah sampai di halaman gubug Mbah Sastro. Rumah itu kata Mbah Sastro berpindah selama tiga kali dalam tiga bulan, terakhir ini yang akan ke empat kali meski agak tidak mungkin karena Mbah Sastro sudah memperhitungkan air pasang tidak akan merendam rumahnya lagi. Ya, jarak air tertinggi dengan lokasi rumah Mbah Sastro sekitar dua ratus meter. Tak akan terkejar air lagi.

 

Angin pantai Kodung Ombo tak berbeda dengan air waduk Gajah Mungkur atau waduk Wadas Lintang, panas menyengat kala siang hari dan dingin menyentuh saat petang. Oleh karenanya kami lebih memilih di luar rumah dari pada di dalam meski Mbok Sastro sudah mempersilahkan. Sayup-sayup panas dan sedang suhu angina terus menyentuh kulit kami.

 

“Bagaimanan Nak ?”, sodor Mbah Sastro lagi, “Aku hampir putus harapan. Keadilan sudah tak ada lagi, hanya semu, kemakmuran hanya ada dalam lamunan”, sambil membenahi tiang bendera dari batang bambu yang miring diterjang angin, “Di negri sendiri kami hidup tidak pasti”. 

 

Pingn rasanya mengabadikan posisi Mbah Sastro, sekedar foto atau sukur-sukur video tapi aku nggak punya. Ku abadikan dalam memoriku yang paling dalam, bahwa Mbah Sastro masih mempunyai (andarbeni) sebuah bendera, bendera kebanggaannya, maka dipasangnya di halaman rumahnya, meski dengan sebatang bambu, tanpa disisiki, kemudian diikat begitu saja pada sebuah pohon agar berdiri kuat. Sang Merah Putih.

Diterbitkan di: on Juni 27, 2008 at 8:46 am  Komentar (1)  

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://abdoelqt.wordpress.com/2008/06/27/cerpen-sang-saka-di-halaman-rumah/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Satu komentarTinggalkan komentar

  1. mana benderanya kang Dul,sang saka atau sekedar tiang dari bambu?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.