Derita pembangunan waduk Wadas Lintang, masih terasa sampai sekarang, sudah sekitar lima belasan tahun yang lalu. Atau bahkan lebih. Begitulah kira-kira yang dialami pak Sarmin. Pria tua yang masih segar bugar. bercucu dua. Anaknya yang bungsu sudah duduk di kelas dua sebuah Sekolah Menengah Pertama di kotanya, Banjarnegara. Kota kecil memang tapi asesoris dan penataannya tidak kalah dengan kota lain, semacam Purwokerto atau yang lain. Asri dan masih banyak panorama alam yang begitu orisinil. Gilar-gilar, begitu kira-kira maksud dari warga Banjar.
Masih sekitar 30-an Kepala Keluarga yang masih utuh, gembleng dalam kesatuan derita yang tak terlupakan. Ya, mungkin mereka-mereka itulah yang bisa disebut konsisten selama puluhan tahun untuk menyatakan apa yang mereka yakini sebagai sebuah kebenaran tak tertandingi. Sebagai sebuah kebenaran, menurut mereka sangat berdosa besar jika dilanggar atau dilindas begitu saja. Karena mereka yakin hal itu adalah benar-benar satu-satunya. “Hak”. Hak sebagai warga sipil yang harus dilindungi.
Itu juga yang mereka yakini merupakan pemberian dari Yang Maha Pengasih. Mereka dianugerahi sebidng tanah melalui nenek keturunannya, untuk berdiam diri sebagai sebuah keluarga kecil yang bersambung sinambung sampai sekarang, secul tanah untuk penghidupannya sebagai Petani, atau anugerah tiada tara sebagai bekal hidup di muka bumi oleh Sang Yang Maha Pemurah.
Disadari betul oleh Pak Sarmin dan teman-temannya, sangat berat. Keyakinan itu sangatlah berat resikonya. Meski tidak harus terjadi. Derita resiko itu sampai kini masih menghantui untuk dirinya sendiri dan untuk anak cucunya kelak, sebagai sebuah pengingkaran kebenaran, sampai anak cucunya, ya, sampai anak cucunya. Pak sarmin tidak mau seperti itu. Yang dia dan teman-tamanya mau, adalah hidup dalam kedamaian, penuh rahmat ilahi seperti harapannya masyarakat Indonesia. Hal itu juga tertuang dalam kitab UUD 1945, yakn pak Sarmin tambah-tambah. Bagi pak Sarmin hal ini yang belum ketemu sampai sekarang. Belum ketemu di negrinya sendiri yang merupakan pijakan hidup bermasyarakat dan beragama.
Saya tidak tahu betul, rasa-rasanya suatu saat pak Sarmin begitu sangat religius dalam kehidupannya ddalam artian kepasrahan dan kesabaran dalam mengahdapi kenyataan ini, tapi juga menjadi sangat heroic dan berapi atas nama khalifahtullah fil ardl. Atau itulah mungkin pemaknaan yang pas terhadap ajaran agama yang juga saya yakini. Semua hamper misterius, maka saya harus dengan gigih memaknakan, menggali dan mempraktekkan, karena aku yang lebih muda, pikirku saat itu.
Sesekali pak Sarmin juga bercerita tentang kegigihan mbah Karto Suwiryo. Saya hanya mencocok-cocokkan saja rujukan sejarah yang kupunya itu hanya sangat sedikit, maklum saya tidak atau belum begitu tertarik oleh perjuangan DI/TII.
Kali ini pak Sarmin tidak se-heroik yang ku tahu selama aku live in, “Aku seperti mau menangis saja, Nak, kalau melihat ini” selorohnya lirih kepadaku. Aku belum paham maksudnya. Di berdiri di atas sebuah batu, diatas yang mirip-mirip bekas bangunan yang sudah lama atau apa.
“Kenapa, Pak?”, tanyaku
Dia tidak mengucurkan air mata tapi sangat mengharukan, sesekali memandangiku sambil menahan derita yang belum juga sirna.
“Di sini dulu bekas rumahku. Batu yang kuinjak ini adalah bekas pondasi rumahku. Aku sangat sedih kalau melihat ini. Aku soro nek delok pondasi iki mas. Aku mesti nangis”. Sengaja kutulis dengan bahasa pak Sarmin. Benar, kuamati mata pak Sarmin mulai berkaca-kaca. Namun secepatnya juga dikerdip-kedipkan matanya sehingga bias membendung derasnya air mata yang ingin meleleh ke pipi. Dia juga ingin tunjukkan bahwa dia masih tegar, setegar seorang laki-laki dihadapan anak cucunya. Juga dihadapanku.
Pondasi itu sekarang menjadi area green belt di sekitaran Waduk Wadas Lintang atau waduk Jendral Soedirman. Area yang harus ditinggalkan oleh pak Sarmin dan keluarganya dan bahkan teman-temannya kalau tidak mau tenggelam dalam luapan air waduk yang tak kenal kompromi. Panas dan keras.
Bersama delapan proyek waduk yang lainnya yang dibiayai Bank Dunia, pak Sarminadalah bagian nyata yang terjadi situasi yang menjadikannya seperti itu. Pak sarmin dan puluhan teman lainnya, belum sepeserpun menerima uang ganti rugai dari permerintah Orde Baru yang bertanggung jawab atas pembangunan itu. Mungkin sudah lupa atau sengaja di-peti eskan. Pimpinan tertinggi rezim orde baru telah lengser, tidak ada yang mau bertanggung jawab atas peristiwa itu, dan hamper setiap orang mentup mata atas peristiwa yang dialami pak Sarmin dan teman-temannya.
Penulis : Abdoel Rohim Mandanganu – Sastrawan Komunitas