MBOK TUKIRAH…TANAH SAK EMPYAK…

Mbok Tukirah tak pernah absen dari kumpulan PKK (Program Kesejahteraan Keluarga) di kampungnya. Dia hafal lagu wajib “Indonesia Raya”, meski mbok Tukirah tidak melek aksara, dia juga hafal 10 Program Pokok PKK, meski dia tak pernah tahu tulisan angka satu sampai sepuluh. Itu karena terlalu seringnya mendengar dan mengucapkan pada kali tiap perkumpulan sejenis. Mbok Tukirah tidak ambil peduli apalagi kehendak ingin memahami apa yang dia nyanyikan dan apa maksudnya, mengapa orang-orang itu juga fasih menyanyikan dan mengikrarkannya. Sedikit ingin tahu tapi dipendamnya, toh juga untuk apa, pikirnya. Yang penting menurutnya adalah melakukan hal yang sama dengan ibu-ibu lainnya dan tidak dianggapnya mbok Tukirah sebagai pupuk bawang, lain tidak. Entahlah…, mbuh ra weruh…, apa makna semua ini apalagi apa kaitannya dengan persoalan yang dia hadapi, semakn tidak tersambungkan. Toh, ketika kumpulan usai masing-masing orang harus berhadapan pada persoalannya sendiri-sendiri dan tidak dibahas di forum kumpulan tersebut apa lagi mencarikan pemecahannya. Sesuatu yang tidak akan terjadi meski dalam pikiran kecil dia juga berharap-harap. (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 19, 2009 at 8:31 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

AKU TAK AKAN MENINGGALKAN MU

Tepuklah dadaku, jangan terlalu lembut tapi juga jangan terlalu kuat. Bukalah selebar mungkin telapak tanganmu, biar lebih luas dan lebar mengenai dadaku yang sempit. Tariklah kerahku, kalau perlu angkatlah daguku dengan jemari lemasmu dan pandangilah terus mataku, terus…, dan jangan berkedip. Salurkan semua energi dalam-mu lewat sorot matamu. Mungkin ini bentuk komunikasi yang paling indah yang kualami selama ini. (lagi…)

Diterbitkan di: on Januari 19, 2009 at 7:27 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

SEBUAH TITIK

Mbah Karso yakin titik itu miliknya. Yakin, tanpa ragu sedikitpun, yakin seyakin-yakinnya. Dia tidak memiliki bukti hukum yang lengkap, seperti pengacara atau fihak manapun yang menge-klaim sesuatu miliknya dengan segudang bukti yang cukup dan bisa dipertanggung jawabkan. Bukti itu adalah dirinya sendiri, cukup dirinya sendiri. Bersumber dari nenek moyangnya yang riwayat dan sejarahnya sahih dan tak terbantahkan oleh siapapun dan fihak manapun.

(lagi…)

Diterbitkan di: on Desember 12, 2008 at 5:36 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pusaka

Tanah adalah ibarat pusaka. Peninggalan nenek moyang yang harus dijaga bahkan dipertahankan sampai titik darah yang terakhir. Begitu penting dan berharganya tanah maka ‘ketaatan’ untuk menjaga dan mempertahankannya berada di titik kejiwaan yang paling klimaks dan batas toleransi rasional yang paling rigid. Tidak bisa tidak bahwa tanah dalam perjalanan waktu dan sejarah perdaban manusia, dalam skala kecil atau luas, menduduki posisi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, penting, begitu penting.   (lagi…)

Diterbitkan di: on Juli 1, 2008 at 5:34 am  Komentar (1)  

Cerpen : Sang Saka Di Halaman Rumah

Seturun dari perahu, kami bersembilan disambut oleh pria tua yang masih terlihat segar dan tegar. Mungkin sekitar 65-an atau lebih. Dan perahu carteran itupun pergi meninggalkan kami. Kami tidak janji apalagi suruh menjemput.

  (lagi…)

Diterbitkan di: on Juni 27, 2008 at 8:46 am  Komentar (1)  

Cerpen : Pondasi Rumah yang Tersisa

Derita pembangunan waduk Wadas Lintang, masih terasa sampai sekarang, sudah sekitar lima belasan tahun yang lalu. Atau bahkan lebih. Begitulah kira-kira yang dialami pak Sarmin. Pria tua yang masih segar bugar. bercucu dua. Anaknya yang bungsu sudah duduk di kelas dua sebuah Sekolah Menengah Pertama di kotanya, Banjarnegara. Kota kecil memang tapi asesoris dan penataannya tidak kalah dengan kota lain, semacam Purwokerto atau yang lain. Asri dan masih banyak panorama alam yang begitu orisinil. Gilar-gilar, begitu kira-kira maksud dari warga Banjar. (lagi…)

Diterbitkan di: on Juni 27, 2008 at 8:39 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.